Selasa, 03 Agustus 2021

Tanggung Jawab Siapa

 


Pak haji tadi malam datang ke rumah. Biasa, silaturahmi. Dari kejauhan saya lihat beliau sedang duduk-duduk sendirian di teras depan rumah.

Sambil scrol-scrol hp, satu batang rokok masih terselip di kedua jarinya. Klepas-klepus menghisap rokok, tanpa tersadar asapya sudah memenuhi depan teras.

“Assalamualaikum, pripun kabare Pak Haji?”, sapa saya.

“Waalaikumsalam, alhamdulilah sehat mas”, jawabnya.

“Mpun dangu pak?”, tanya saya.

“Nembe kok mas, bar isya’an iki mau langsung mrene”, jawabnya.

Saya mengobrol panjang lebar dengan Pak Haji, ternyata beliau mau mengabarkan bahwa minggu ini beliau sedang berduka.

Adik kandungnya, Haji Jali yang ada di daerah Sedayu kota Gresik Jawa Timur sana, empat hari yang lalu meninggal dunia.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiun”, kata saya dengan sedikit kaget.

Kata beliau, almarhum nih memang punya riwayat sakit darah rendah. Jika badannya terlalu capek, maka sewaktu-waktu Haji Jali nih kondisinya bisa langsung drop kapan saja.

Nah, pas kemarin kondisinya lagi ngedrop, sempat dibawa dan dirawat di rumah sakit beberapa hari. Setelah dapat perawatan yang intens di sana, ternyata takdir berkata lain. Haji Jali ternyata dipangil oleh Allah ta’ala.

Sedih sekali Pak Haji menceritakannya. Saya pun juga jadinya ikut-ikutan sedih.

Almarhum sempat dites covid, tapi hasilnya belum keluar. Hasil tesnya belum keluar, tapi pihak rumah sakit memaksa memutuskan pemakamannya dimakaman sesuai protokol kesehatan (prokes). 

Menurut saya ini keputusan yang sangat aneh.

Pihak keluarga sana juga tidak ada yang mau berani protes. Takut jenazah tidak bisa keluar dari rumah sakit. Karena hal itulah akhirnya semua pihak keluarga setuju dengan keputusan pihak rumah sakit.

Kata pak Haji, almarhum meninggal di malam hari. Pemakaman rencananya dilaksanakan di hari besoknya. Karena pemakaman sesuai prokes, pihak keluarga hanya bisa menyalati jenazah di luar masjid. 

Mereka menyalati jenazah dengan kondisi masih ada di dalam mobil ambulan. Tidak bisa mendekat. Tidak bisa memegang. Melihat pun harus jaga jarak.

Ya Allah... rasanya saya terenyuh sekali mendengar cerita Pak haji malam ini.

Bayangkan, adik kandung tercinta meninggal, tapi seorang kakak tidak bisa mengikuti dan menghormati pemakamannya kerena terhalang oleh program PPKM pemerintah.

Sekedar hanya untuk melihat langsung jasad adiknya tercinta untuk terakhir kali saja tidak bisa. Kasihan sekali Pak Haji.

“Atiku saiki rasane yo sedih, yo bingung, yo mangkel mas, wes campur-campur pokoke!”, marah dia.

Setelah besoknya selesai semua proses pemakaman, satu hari kemudian pihak rumah sakit mengeluarkan surat hasil tes covid jenazah.

Di surat dijelaskan bahwa jenazah dinyatakan negatif virus covid-19. DUARRR!!! Pihak keluarga di sana shock membaca hasil tesnya. Pak haji pun semakin meluap-luap emosinya.

“Kok iso koyo ngene mas!!! Piye rumah sakit ki???”, marah dia.

“Sabar Pak Haji”, redam saya.

Padahal sudah satu hari tetangga-tetangga di rumah duka tidak ada yang berani ikut tahlilan. Takut tertular virus. Pak Haji juga tidak bisa apa-apa karena posisi Pak Haji yang juga jauh dari rumah duka.

Beliau hanya bisa telpon sambil marah-marah ke semua pihak keluarga Sedayu sana. Keluarga sana juga marah dengan keputusan pihak rumah sakit yang tergesa-gesa memakamkan jenazah dengan sesuai prokes. Hasil tes negatif, tapi pemakamannya pakai prokes.

Kalau sudah begini, semua ini jadi tanggung jawab siapa coba?

 

Akhwan Zarkasyi

(Gitaris, fotografer dan Penulis)

Terima kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat, anda bisa bagi tulisan ini sekarang juga

Twitter @AkhwanZarkasyi

Facebook @AkhwanZarkasyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merintis Jualan Lagi

Hari ini kami buka perdana jualan es jeruk di kota Ponorogo. Kami buat brand es jeruk baru dengan nama NIKIJERUK . Jualannya di ...