Pak haji tadi malam datang ke rumah.
Biasa, silaturahmi. Dari kejauhan saya lihat beliau sedang duduk-duduk
sendirian di teras depan rumah.
Sambil scrol-scrol hp, satu batang rokok
masih terselip di kedua jarinya. Klepas-klepus menghisap rokok, tanpa
tersadar asapya sudah memenuhi depan teras.
“Assalamualaikum, pripun kabare Pak
Haji?”, sapa saya.
“Waalaikumsalam, alhamdulilah sehat
mas”, jawabnya.
“Mpun dangu pak?”, tanya saya.
“Nembe kok mas, bar isya’an iki mau
langsung mrene”, jawabnya.
Saya mengobrol panjang lebar dengan Pak Haji, ternyata beliau mau mengabarkan bahwa minggu ini beliau sedang berduka.
Adik kandungnya, Haji Jali yang
ada di daerah Sedayu kota Gresik Jawa Timur sana, empat hari yang lalu
meninggal dunia.
“Innalillahi wainna ilaihi raajiun”,
kata saya dengan sedikit kaget.
Kata beliau, almarhum nih memang
punya riwayat sakit darah rendah. Jika badannya terlalu capek, maka
sewaktu-waktu Haji Jali nih kondisinya bisa langsung drop kapan saja.
Nah,
pas kemarin kondisinya lagi ngedrop, sempat dibawa dan dirawat di rumah sakit beberapa
hari. Setelah dapat perawatan yang intens di sana, ternyata takdir berkata
lain. Haji Jali ternyata dipangil oleh Allah ta’ala.
Sedih sekali Pak Haji menceritakannya. Saya pun juga jadinya ikut-ikutan sedih.
Almarhum sempat dites covid, tapi
hasilnya belum keluar. Hasil tesnya belum keluar, tapi pihak rumah sakit memaksa
memutuskan pemakamannya dimakaman sesuai protokol kesehatan (prokes).
Menurut saya ini keputusan yang sangat aneh.
Pihak keluarga sana juga tidak ada
yang mau berani protes. Takut jenazah tidak bisa keluar dari rumah sakit.
Karena hal itulah akhirnya semua pihak keluarga setuju dengan keputusan pihak
rumah sakit.
Kata pak Haji, almarhum meninggal di malam hari. Pemakaman rencananya dilaksanakan di hari besoknya. Karena
pemakaman sesuai prokes, pihak keluarga hanya bisa menyalati jenazah di luar
masjid.
Mereka menyalati jenazah dengan kondisi masih ada di dalam mobil
ambulan. Tidak bisa mendekat. Tidak bisa memegang. Melihat pun harus jaga
jarak.
Ya Allah... rasanya saya terenyuh sekali mendengar cerita Pak haji malam ini.
Bayangkan, adik kandung tercinta
meninggal, tapi seorang kakak tidak bisa mengikuti dan menghormati pemakamannya
kerena terhalang oleh program PPKM pemerintah.
Sekedar hanya untuk melihat
langsung jasad adiknya tercinta untuk terakhir kali saja tidak bisa. Kasihan sekali Pak Haji.
“Atiku saiki rasane yo sedih, yo
bingung, yo mangkel mas, wes campur-campur pokoke!”, marah dia.
Setelah besoknya selesai semua
proses pemakaman, satu hari kemudian pihak rumah sakit mengeluarkan surat hasil tes
covid jenazah.
Di surat dijelaskan bahwa jenazah dinyatakan negatif virus
covid-19. DUARRR!!! Pihak keluarga di sana shock membaca hasil tesnya.
Pak haji pun semakin meluap-luap emosinya.
“Kok iso koyo ngene mas!!! Piye rumah
sakit ki???”, marah dia.
“Sabar Pak Haji”, redam saya.
Padahal sudah satu hari tetangga-tetangga
di rumah duka tidak ada yang berani ikut tahlilan. Takut tertular virus. Pak
Haji juga tidak bisa apa-apa karena posisi Pak Haji yang juga jauh dari rumah
duka.
Beliau hanya bisa telpon sambil marah-marah ke semua pihak keluarga
Sedayu sana. Keluarga sana juga marah dengan keputusan pihak rumah sakit yang tergesa-gesa
memakamkan jenazah dengan sesuai prokes. Hasil tes negatif, tapi pemakamannya
pakai prokes.
Kalau sudah begini, semua ini jadi
tanggung jawab siapa coba?
Akhwan Zarkasyi
(Gitaris, fotografer dan Penulis)
Terima kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat, anda bisa bagi tulisan ini sekarang juga
Twitter @AkhwanZarkasyi
Facebook @AkhwanZarkasyi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar