Mungkin
sepertinya sudah hampir satu tahun ini saya mengikuti pengajian Gus Baha’ di channel
youtube Santri Gayeng. Setiap hari saya selalu berusaha menyempatkan
waktu untuk melihat kajian-kajian beliau. Minimal satu hari satu video.
Alhamdulilah,
banyak sekali ilmu agama, khususnya ilmu fiqih yang saya dapatkan dari beliau.
Semoga sehat
terus ya Gus. Aamiin…
Di video
kemarin, kajiannya membahas tentang masalah ibadah sunah. Beliau mengatakan,
bahwa jangan sampai ibadah-ibadah sunah yang kita lakukan selama ini, porsinya
sampai kita anggap sebagai ibadah wajib.
Maksudnya
bagaimana?
Maksudnya
begini, sunah itu kan hukumnya kalau kita kerjakan kita dapat pahala, tapi
kalau tidak ya tidak apa-apa. Sedangkan wajib kalau kita kerjakan kita dapat
pahala, tapi kalau tidak ya kita berdosa.
Untuk
sunah, kata-kata tidak apa-apa nih harus kita garis bawahi. Karena ini penting
sekali.
Contoh
kasusnya begini, ada orang yang konsisten setiap hari terbiasa melakukan ibadah
sunah. Saking sudah terbiasanya salat duha, lupa salat duha sehari saja rasanya
sudah menyesal.
Saking
terbiasanya salat qabliyah ba’diyah, lupa tidak salat qabliyah
ba’diyah rasanya sudah menyesal. Saking terbiasanya salat tahajud, lupa
tidak salat tahajud rasanya sudah menyesal.
Anda pernah
merasakan juga?
Nah, jika anda pernah merasakan juga berhati-hatilah.
Jika terlalu berlebihan, maka rasa penyesalan tersebut bisa memunculkan potensi
dalam diri untuk menganggap ibadah-ibadah sunah tersebut menjadi sebuah ibadah
wajib. Nah, ini kan jadi tidak sesuai lagi dengan hukum fiqihnya.
Saya
sendiri pernah merasakan kondisi seperti itu. Rasanya menyesal tidak melakukan
ibadah-ibadah sunah. Merasa rugi. Meskipun sebenarya saya juga tahu bahwa tidak
melakukannya juga tidak apa-apa.
Menurut
saya, rasa penyesalan dan rugi itu baik. Baik untuk memberikan semangat kita
agar bisa terus konsisten beribadah. Tapi kalau bisa ya harus kita sesuaikan
dengan porsinya masing-masing.
Gus Baha’
sendiri juga pernah bilang, bahwa beliau sendiri jarang sekali salat qabliyah
ba’diyah. Dalam satu bulan salat sunah beliau mungkin bisa dihitung.
Tapi ya
kita tidak usah meniru beliau. Beliau itu ahlul kitab, pakarnya
kitab-kitab islam, sedangkan kita masih tahap belajar ilmu agamanya.
Amalan-amalan
ibadah beliau tentu jelas rujukannya, sedangkan kita salat khusuk aja mungkin masih
dalam tahap belajar. Jangan dibandingkan. Kalau dibandingkan sama kita pokoknya
jauh sundul langit. Hehe…
Saya
sendiri rasanya eman-eman kalau dalam sehari tidak melakukan ibadah
sunah. Tapi ya mau bagaimana lagi, sebagai pengingat bahwa itu semua adalah ibadah
sunah, solusinya adalah jadwal ibadah sunah saya selang-seling setiap hari.
Satu hari salat, satu hari tidak.
Hari ini
salat duha, besok tidak salat. Hari ini salat qabliyah ba’diyah, besok
tidak. Hari ini salat tahajud, besok tidak. Seperti ibadah sunah puasa daud,
hari ini puasa, besok tidak. Saya coba
mulai membiasakannya setiap hari.
Dengan
begini saya ada pengingat diri, bahwa ibadah-ibadah sunah yang saya lakukan hukumnya
adalah sunah. Bukan wajib.
Kalau
dipikir-pikir sih, syaitan itu mugkin tidak hanya selalu berusaha memlesetkan
kita dalam hal keburukan saja. Mungkin dalam hal kebaikan, jika ada celah
sedikit saja, mungkin syaitan malah bisa leluasa memlesetkan iman, islam dan
ihsan kita.
Mungkin…
Semoga kita
termasuk golongan hamba Allah yang selalu mendapatkan petunjuk, ampunan dan
naungan-Nya.
Aamiin…
Wallahu
a’lam bishawab.
Akhwan
Zarkasyi
(Gitaris, Fotografer dan Penulis)
Terima kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan ini bermanfaat, anda bisa bagi tulisan ini sekarang juga.
Twitter @AkhwanZarkasyi
Facebook @AkhwanZarkasyi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar