Minggu, 08 Agustus 2021

Memahami Ibadah Sunah

 


Mungkin sepertinya sudah hampir satu tahun ini saya mengikuti pengajian Gus Baha’ di channel youtube Santri Gayeng. Setiap hari saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk melihat kajian-kajian beliau. Minimal satu hari satu video.

Alhamdulilah, banyak sekali ilmu agama, khususnya ilmu fiqih yang saya dapatkan dari beliau.

Semoga sehat terus ya Gus. Aamiin…

Di video kemarin, kajiannya membahas tentang masalah ibadah sunah. Beliau mengatakan, bahwa jangan sampai ibadah-ibadah sunah yang kita lakukan selama ini, porsinya sampai kita anggap sebagai ibadah wajib.

Maksudnya bagaimana?

Maksudnya begini, sunah itu kan hukumnya kalau kita kerjakan kita dapat pahala, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa. Sedangkan wajib kalau kita kerjakan kita dapat pahala, tapi kalau tidak ya kita berdosa.

Untuk sunah, kata-kata tidak apa-apa nih harus kita garis bawahi. Karena ini penting sekali.

Contoh kasusnya begini, ada orang yang konsisten setiap hari terbiasa melakukan ibadah sunah. Saking sudah terbiasanya salat duha, lupa salat duha sehari saja rasanya sudah menyesal.

Saking terbiasanya salat qabliyah ba’diyah, lupa tidak salat qabliyah ba’diyah rasanya sudah menyesal. Saking terbiasanya salat tahajud, lupa tidak salat tahajud rasanya sudah menyesal.

Anda pernah merasakan juga?

Nah, jika anda pernah merasakan juga berhati-hatilah.

Jika terlalu berlebihan, maka rasa penyesalan tersebut bisa memunculkan potensi dalam diri untuk menganggap ibadah-ibadah sunah tersebut menjadi sebuah ibadah wajib. Nah, ini kan jadi tidak sesuai lagi dengan hukum fiqihnya.

Saya sendiri pernah merasakan kondisi seperti itu. Rasanya menyesal tidak melakukan ibadah-ibadah sunah. Merasa rugi. Meskipun sebenarya saya juga tahu bahwa tidak melakukannya juga tidak apa-apa.

Menurut saya, rasa penyesalan dan rugi itu baik. Baik untuk memberikan semangat kita agar bisa terus konsisten beribadah. Tapi kalau bisa ya harus kita sesuaikan dengan porsinya masing-masing.

Gus Baha’ sendiri juga pernah bilang, bahwa beliau sendiri jarang sekali salat qabliyah ba’diyah. Dalam satu bulan salat sunah beliau mungkin bisa dihitung.

Tapi ya kita tidak usah meniru beliau. Beliau itu ahlul kitab, pakarnya kitab-kitab islam, sedangkan kita masih tahap belajar ilmu agamanya.

Amalan-amalan ibadah beliau tentu jelas rujukannya, sedangkan kita salat khusuk aja mungkin masih dalam tahap belajar. Jangan dibandingkan. Kalau dibandingkan sama kita pokoknya jauh sundul langit. Hehe…

Saya sendiri rasanya eman-eman kalau dalam sehari tidak melakukan ibadah sunah. Tapi ya mau bagaimana lagi, sebagai pengingat bahwa itu semua adalah ibadah sunah, solusinya adalah jadwal ibadah sunah saya selang-seling setiap hari. Satu hari salat, satu hari tidak.

Hari ini salat duha, besok tidak salat. Hari ini salat qabliyah ba’diyah, besok tidak. Hari ini salat tahajud, besok tidak. Seperti ibadah sunah puasa daud, hari ini puasa, besok tidak.  Saya coba mulai membiasakannya setiap hari.

Dengan begini saya ada pengingat diri, bahwa ibadah-ibadah sunah yang saya lakukan hukumnya adalah sunah. Bukan wajib.

Kalau dipikir-pikir sih, syaitan itu mugkin tidak hanya selalu berusaha memlesetkan kita dalam hal keburukan saja. Mungkin dalam hal kebaikan, jika ada celah sedikit saja, mungkin syaitan malah bisa leluasa memlesetkan iman, islam dan ihsan kita.

Mungkin…

Semoga kita termasuk golongan hamba Allah yang selalu mendapatkan petunjuk, ampunan dan naungan-Nya.

Aamiin…

Wallahu a’lam bishawab.


Akhwan Zarkasyi

(Gitaris, Fotografer dan Penulis)

Terima kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan ini bermanfaat, anda bisa bagi tulisan ini sekarang juga.

Twitter @AkhwanZarkasyi

Facebook @AkhwanZarkasyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merintis Jualan Lagi

Hari ini kami buka perdana jualan es jeruk di kota Ponorogo. Kami buat brand es jeruk baru dengan nama NIKIJERUK . Jualannya di ...