Saya tadi habis baca sebuah artikel pengembangan diri dari James
Clear The Chosen Ones Choose Themselves . Artikel tersebut banyak
membahas tentang kisah hidup sang penulis novel fiksi legendaris Harry Potter,
J.K. Rowling.
Hari ini kita melihat dia sudah menjadi seorang
penulis yang hebat. Novel Harry Potter yang terbitannya sudah sampai jilid ke-7 itu, tiap
serinya selalu menjadi novel paling laris. Larisnya tidak hanya di negara
Inggris di tempat tinggalnya sana saja, tapi sudah sampai di seluruh dunia.
Makanya, buku-bukunya sudah diterjemahkan kedalam banyak bahasa. tidak hanya anak-anak saja yang menyukai bukunya, tapi orang-orang dewasa juga menggandrungi seri buku-bukunya.
Cerita di dalam novelnya pun sampai sudah
diangkat ke layar lebar. Dan filmnya sukses besar. Setiap seri filmnya selalu
ditunggu dan dielu-elukan oleh para penggemarnya. Sepertinya semua orang di dunia selalu ingin
menonton serial filmnya.
Majalah forbes, majalahnya orang-orang kaya top dunia sampai menobatkan J.K. Rowling sebagai satu-satunya penulis yang bisa menghasilkan 1 billions dollar dari profesi hanya dari menulis saja.
Prestasi yang luar
biasa. Itu billions-nya dollar loh ya, bukan rupiah. Coba anda hitung sendiri
deh, berapa banyak angka nol-nya tuh? Hehe…
Dibalik kesuksesannya yang mentereng itu, ternyata dia punya rentetan kisah masah lalu yang begitu kelam. Saya baca dari artikel di sebuah portal berita, masa kelam J.K. Rowling itu banyak dan dan begitu bertubi-tubi.
Mulai dari pernikahan masa mudanya yang sangat singkat. Pernikahan yang
dikaruniai satu orang anak itu hanya bertahan satu tahun saja.
Dia juga seorang single fighter dengan satu orang anak tanpa memiliki pekerjaan yang mapan. Hal ini membuatnya kesulitan untuk membiayai kehidupan mereka berdua.
Dia pernah bekerja sebagai
juru ketik dan tukang arsip di sebuah gereja. Selama bekerja, anaknya yang masih
kecil itu selalu dibawa dan ditidurkan di kereta dorong.
Selain itu, naskah-naskah novel Harry Potter yang dia
kirimkan ke penerbit-penerbit pernah ditolak sampai 13 kali. Katanya, jika
naskah novel yang kamu kirimkan tidak ada balasan dari penerbit, berarti naskahmu ditolak. Meski
terus ditolak, dia terus saja mengirimkan naskah-naskah ke penerbit-penerbit lain.
Dia juga pernah depresi berat.
Rasanya sudah sampai ingin bunuh diri. Tapi saat dia melihat sosok putrinya
yang masih kecil itu, dia urungkan niatnya. Ada semangat untuk melanjutkan
hidupnya lagi. Meskipun dia harus butuh seorang psikiater untuk mengembalikan
kondisi mentalnya yang terpuruk.
Meski masa lalunya berat, J.K. Rowling tidak pernah menyerah dengan keinginannya yang kuat untuk menjadi seorang penulis. Ibunya juga tahu bahwa dia sejak kecil memang suka dengan dunia tulis menulis.
Tapi sayang, setelah enam bulan penulisan naskah Harry Potter, ibunya meninggal
dunia. Dia tidak bisa melihat kesuksesan anaknya yang sekarang.
Masa lalu J.K. Rowling begitu kelam. Banyak sekali kepedihan yang harus dia alami. Meski begitu dia tidak pernah merasa malu membiacarakan semua kegagalannya. Rasanya tidak ada apa-apanya kisah kelam masa lalu saya
dibandingkan dengan masa lalu J.K. Rowling.
Kalau anda bagaimana?
Membaca kisah penulis yang satu ini saya jadi ingat kata-kata seorang artis Andre Taulani di sebuah interview yang pernah bilang bahwa,
“Kehidupan itu pasti berputar Bro, tidak mungkin hidup lo selamanya akan bahagia terus, pasti akan ada saatnya nanti lo akan merasakan kesedihan. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin hidup lo selamanya akan sedih terus, pasti nanti akan ada saatnya tergantikan dengan kebahagiaan”.
Benar saja, setelah J.K. Rowling merasakan kegagalan demi kegagalan, sebuah titik cerah harapan pun mulai sedikit terlihat. Seseorang bernama Christopher Little mau melirik karyanya.
Dia adalah
seseorang yang berkecimpung di dunia sastra. Melalui orang tersebut, novel
Harry Potter akhirnya dipublikasikan oleh penerbit Bloomsbury.
Proses penerbitannya juga tidak mudah. Agar bukunya bisa terbit, pihak penerbit memberikan sejumlah syarat. Salah satunya adalah penerbit tidak mau menuliskan nama lengkapnya Joanne Kathleen Rowling.
Karena menurut penerbit, nama lengkapnya terlalu
feminin. Katanya untuk buku kategori anak-anak, penulis perempuan itu kurang populer. Bisa-bisa bukunya nanti jadi tidak laku. Makanya, nama penulis buku Harry Potter ditulis dengan singkatan J.K. Rowling.
Editornya juga pernah meremehkannya, katanya
jangan terlalu berharap dengan income dari menulis buku. Karena hasilnya
tidak akan pernah cukup untuk biaya hidup. Tapi dia tidak mau mendengarkan
nasehat editornya. Dia masih tetap bersikukuh ingin menerbitkan hasil jerih
payahnya selama ini.
Ternyata editornya salah besar. Setelah
diterbitkan, buku-bukunya malah laris manis dan sukses besar. Buku seri novelnya sampai berjilid-jilid. Adik saya aja yang sudah punya anak satu sampai punya semua koleksi
lengkap buku-bukunya.
Belum lagi film-filmnya di box office. Film-film
Harry Potter sukses mencuri perhatian dunia. Tiket-tiket bioskopnya selalu
ludes terjual saat peluncuran perdana film-filmnya. Semua kalangan suka melihat film-film Hary Potter.
Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik dari
kisah ini?
Kalau menurut saya sih, untuk mencapai sesuatu
ya kita memang harus gagal dulu. Apapun pencapaian yang kita inginkan, ya kita harus
berani merasakan gagal dulu. Tanpa kita mau berani gagal, kita tidak akan pernah bisa belajar
bagaimana proses melangkah ke sebuah pencapaian yang kita inginkan
Seperti pidato J.K. Rowling dalam sebuah acara pelepasan kelulusan mahasiswa di universitas Harvard,
“It is imposible to live without failing at something. Unless you live so cautiously, that you might as well not have lived at all”.
Gagal itu belajar. Gagal itu proses. Gagal itu
ibarat tangga yang harus kita naiki satu persatu agar nantinya kita bisa sampai
di puncak kesuksesan yang kita inginkan. Jadi pelajari gagalmu, maka akan semakin dekat suksesmu.
Akhwan
Zarkasyi
(Gitaris,
Fotografer dan Penulis)
Terima
kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat, anda
bisa bagi tulisan ini sekarang juga.
Twitter @AkhwanZarkasyi
Facebook @AkhwanZarkasyi



Tidak ada komentar:
Posting Komentar