Rabu, 25 Agustus 2021

Jalan-Jalan Pagi


Kemarin pagi tumben istri ngajakin jalan-jalan. Padahal kemarin pagi cuaca lagi dingin. Kalau masih dingin, biasanya dia masih ngruntel selimutan di kamar. Badannya suka ndrodog kalau kena cuaca dingin. Emang ada apa ya, orang yang alergi dengan cuaca dingin?

 

“Ah udah lah, ikutin aja apa kata istri. Pagi ini let’s go kita jalan-jalan”, batin saya.

 

Motor pun saya keluarkan dari rumah. Dipanasin bentar. Sambil manasin saya terus berpikir, “Ajak jalan-jalan kemana ini ya?”, tanya dalam hati.

 

Setelah istri siap-siap, saya pun menggeber motor. Saat sudah jalan, masih bingung juga mau jalan kemana. Sudah lah yang penting jalan dulu aja.

 

Tidak lupa kamera Nikon D3200 saya bawa. Biasa buat latihan motret-motret. Cuaca pagi tuh biasanya banyak pemandangan yang cantik dan menarik.

 

Setelah berpikir lama, saya putuskan untuk jalan-jalan ke kali kutho. Sebuah sungai besar yang jadi perbatasan antara kota Kendal dan kota Batang. Sungai ini sangat iconic karena diatasnya dibangun sebuah jembatan tol warna merah yang begitu megah.

 

Kalau kamu pernah lewat jembatan ini, berarti kamu pernah lewat kota Weleri. Rumahku deket loh sama jembatan merah ini. Mungkin hanya sekitar 10 menit perjalanannya dari jembatan ini. Mampir ya! Hehe…

 

Kami jalan-jalan ke kali kutho lewat jalur selatan. Jalur ini adalah Jalur perbukitan yang dipenuhi dengan rerimbunan pepohonan yang lebat-lebat sekali. Bisa dikatakan ini mirip tengah hutan lah.

 

Setengah perjalanan awal medannya masih jalan cor, tapi sisanya kami harus melewati jalan makadam atau bebatuan yang bercampur dengan banyak lumpur.

 

Di bukit ini juga terdapat sebuah makam yang luas. Katanya orang-orang sih makamnya wingit dan angker. Gimana ga wingit coba, di beberapa tempat makamnya tumbuh beberapa pohon beringin yang besar dan tua.

 

Diameter pohonya besar sekali. Daunnya lebat-lebat. Dan rumbai-rumbai rantingnya terlihat menjulur-julur ke bawah. Kalau malam-malam lewat makam ini sendirian pasti terasa seram.

 

Nah, saat kami lewat makam ini tiba-tiba saya melihat sebuah jalan setapak yang mengarah ke suatu tempat. Seperti sebuah spot tempat nongkrong anak muda. Jalan setapak itu mengarah ke sebuah puncak perbukitan kali kutho.

 

“Pernah kesini dik?”, tanya saya.

“Belum…”, jawab istri.

“Ya udah yuk, kita coba ke sana”, ajak saya.

 

Akhirnya kami memutuskan pergi ke sana. Tempatnya terlihat sepi. Tidak ada orang sama sekali. Tapi disekitarnya banyak terdapat spot-spot nongkrong. Di tengahnya terdapat rumah kayu yang digunakan barista untuk meracik berbagai macam minuman.

 

“Oalah, ternyata ini kafe toh”, batin saya.

 

Jadi spot ini adalah sebuah kafe dengan konsep outdoor di tengah alam. Berada di atas sebuah perbukitan. Bisa nongkrong sambil melihat keindahan kota Weleri dari atas bukit. Sebuah konsep yang menarik.

 

Tapi kafenya ini dekat dengan kuburan. Sekitar 10 meter ke timur sudah masuk kuburan. Kalau malam hari kuburan memang tidak kelihatan, tapi kalau siang hari kelihatan jelas sekali.

 

Akhirnya saya jelajahi semua area kafe tersebut. Dari sini pemandangannya cantik-cantik sekali. Jembatan merah yang berada di jalan tol kota Weleri terlihat megah sekali. Rasanya asyik melihat hilir mudik kendaraan dari atas bukit ini.

 

“Wah, ga sia-sia nih tadi saya bawa kamera”, batin saya.

 

Tanpa menunggu waktu lama, kamera pun langsung saya setting. Langsung cekrak-cekrek dengan segala pemandangan yang sudah disuguhkan. Hamparan sawah yang membentang di sepinggiran kali kutho menambah keindahan alamnya jadi makin cantik.


 

Nama kafenya adalah BTS (Bukit Tegal Santun). Sudah lima tahun lebih saya tinggal di kota Weleri, tapi saya baru tahu kalau di kota saya ada tempat nongkrong seasyik ini. Istri saya yang asli orang sini ternyata juga baru tahu tempat ini.

 

Wah, kami kudet nih. Kurang update. Hehe…



Setelah saya jelajahi, ternyata ada dua jalur untuk masuk ke kafe ini. Jalur pertama adalah jalur dari kali kutho. Di jalur ini kita harus menaiki jalan setapak yang menanjak. Jalurnya meliuk-liuk seperti ular.

 

Jalur kedua adalah jalur dari kuburan. Jalannya enak. Tinggal lurus aja ke barat sudah bisa masuk kafe. Tapi ya itu, harus lewat kuburan dulu. Serem deh.




Setelah selesai motret-motret, kami pun bergegas pulang. Sebenarnya sayang banget kalau harus pergi, karena masih belum puas motretnya. Ya mau bagaimana lagi, kita berdua sendirian disini. Rasanya serem juga kalau hanya berdua sendirian.

 

Insyaallah kapan-kapan kami harus kesini lagi. Sayang banget kalau tempat sebagus ini tidak dijadikan spot foto produk hijab Lina Livia di butik kami Griya Aniqah.

 

Tentunya harus membawa konsep yang pas dan jelas juga. Memotret foto produk kalau konsepnya pas dan jelas dengan spotnya, insyallah foto-fotonya pasti menjual.

 

Kamu mungkin ada saran, tempat sebagus ini mau dikonsep seperti apa? Silahkan beri komentar kamu sekarang di bawah.

 

 

Akhwan Zarkasyi

(Gitaris, Fotografer dan Penulis)

Terima kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat, anda bisa bagi tulisan ini sekarang juga.

Twitter @AkhwanZarkasyi

Facebook @AkhwanZarkasyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merintis Jualan Lagi

Hari ini kami buka perdana jualan es jeruk di kota Ponorogo. Kami buat brand es jeruk baru dengan nama NIKIJERUK . Jualannya di ...