Kemarin pagi tumben istri ngajakin jalan-jalan.
Padahal kemarin pagi cuaca lagi dingin. Kalau masih dingin, biasanya dia masih ngruntel
selimutan di kamar. Badannya suka ndrodog kalau kena cuaca dingin. Emang
ada apa ya, orang yang alergi dengan cuaca dingin?
“Ah udah lah, ikutin aja apa kata istri. Pagi
ini let’s go kita jalan-jalan”, batin saya.
Motor pun saya keluarkan dari rumah. Dipanasin
bentar. Sambil manasin saya terus berpikir, “Ajak jalan-jalan kemana ini ya?”,
tanya dalam hati.
Setelah istri siap-siap, saya pun menggeber
motor. Saat sudah jalan, masih bingung juga mau jalan kemana. Sudah lah yang
penting jalan dulu aja.
Tidak lupa kamera Nikon D3200 saya bawa. Biasa
buat latihan motret-motret. Cuaca pagi tuh biasanya banyak pemandangan yang
cantik dan menarik.
Setelah berpikir lama, saya putuskan untuk
jalan-jalan ke kali kutho. Sebuah sungai besar yang jadi perbatasan
antara kota Kendal dan kota Batang. Sungai ini sangat iconic karena
diatasnya dibangun sebuah jembatan tol warna merah yang begitu megah.
Kalau kamu pernah lewat jembatan ini, berarti
kamu pernah lewat kota Weleri. Rumahku deket loh sama jembatan merah ini.
Mungkin hanya sekitar 10 menit perjalanannya dari jembatan ini. Mampir ya!
Hehe…
Kami jalan-jalan ke kali kutho lewat
jalur selatan. Jalur ini adalah Jalur perbukitan yang dipenuhi dengan
rerimbunan pepohonan yang lebat-lebat sekali. Bisa dikatakan ini mirip tengah
hutan lah.
Setengah perjalanan awal medannya masih jalan
cor, tapi sisanya kami harus melewati jalan makadam atau bebatuan yang
bercampur dengan banyak lumpur.
Di bukit ini juga terdapat sebuah makam yang
luas. Katanya orang-orang sih makamnya wingit dan angker. Gimana ga wingit
coba, di beberapa tempat makamnya tumbuh beberapa pohon beringin yang besar dan
tua.
Diameter pohonya besar sekali. Daunnya
lebat-lebat. Dan rumbai-rumbai rantingnya terlihat menjulur-julur ke bawah.
Kalau malam-malam lewat makam ini sendirian pasti terasa seram.
Nah, saat kami lewat makam ini tiba-tiba saya
melihat sebuah jalan setapak yang mengarah ke suatu tempat. Seperti sebuah spot
tempat nongkrong anak muda. Jalan setapak itu mengarah ke sebuah puncak
perbukitan kali kutho.
“Pernah kesini dik?”, tanya saya.
“Belum…”, jawab istri.
“Ya udah yuk, kita coba ke sana”, ajak saya.
Akhirnya kami memutuskan pergi ke sana.
Tempatnya terlihat sepi. Tidak ada orang sama sekali. Tapi disekitarnya banyak
terdapat spot-spot nongkrong. Di tengahnya terdapat rumah kayu yang
digunakan barista untuk meracik berbagai macam minuman.
“Oalah, ternyata ini kafe toh”, batin saya.
Jadi spot ini adalah sebuah kafe dengan konsep outdoor
di tengah alam. Berada di atas sebuah perbukitan. Bisa nongkrong sambil melihat
keindahan kota Weleri dari atas bukit. Sebuah konsep yang menarik.
Tapi kafenya ini dekat dengan kuburan. Sekitar
10 meter ke timur sudah masuk kuburan. Kalau malam hari kuburan memang tidak
kelihatan, tapi kalau siang hari kelihatan jelas sekali.
Akhirnya saya jelajahi semua area kafe
tersebut. Dari sini pemandangannya cantik-cantik sekali. Jembatan merah yang
berada di jalan tol kota Weleri terlihat megah sekali. Rasanya asyik melihat
hilir mudik kendaraan dari atas bukit ini.
“Wah, ga sia-sia nih tadi saya bawa kamera”,
batin saya.
Tanpa menunggu waktu lama, kamera pun langsung
saya setting. Langsung cekrak-cekrek dengan segala pemandangan
yang sudah disuguhkan. Hamparan sawah yang membentang di sepinggiran kali
kutho menambah keindahan alamnya jadi makin cantik.
Nama kafenya adalah BTS (Bukit Tegal Santun).
Sudah lima tahun lebih saya tinggal di kota Weleri, tapi saya baru tahu kalau
di kota saya ada tempat nongkrong seasyik ini. Istri saya yang asli orang sini ternyata
juga baru tahu tempat ini.
Wah, kami kudet nih. Kurang update.
Hehe…
Setelah saya jelajahi, ternyata ada dua jalur
untuk masuk ke kafe ini. Jalur pertama adalah jalur dari kali kutho. Di jalur
ini kita harus menaiki jalan setapak yang menanjak. Jalurnya meliuk-liuk
seperti ular.
Jalur kedua adalah jalur dari kuburan. Jalannya enak. Tinggal lurus aja ke barat sudah bisa masuk kafe. Tapi ya itu, harus lewat kuburan dulu. Serem deh.
Setelah selesai motret-motret, kami pun
bergegas pulang. Sebenarnya sayang banget kalau harus pergi, karena masih belum
puas motretnya. Ya mau bagaimana lagi, kita berdua sendirian disini. Rasanya
serem juga kalau hanya berdua sendirian.
Insyaallah kapan-kapan kami harus kesini lagi.
Sayang banget kalau tempat sebagus ini tidak dijadikan spot foto produk hijab Lina Livia di butik kami Griya Aniqah.
Tentunya harus membawa konsep yang pas dan
jelas juga. Memotret foto produk kalau konsepnya pas dan jelas dengan spotnya,
insyallah foto-fotonya pasti menjual.
Kamu mungkin ada saran, tempat sebagus ini mau dikonsep
seperti apa? Silahkan beri komentar kamu sekarang di bawah.
Akhwan
Zarkasyi
(Gitaris,
Fotografer dan Penulis)
Terima
kasih sudah mau membaca. Jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat, anda
bisa bagi tulisan ini sekarang juga.
Twitter @AkhwanZarkasyi
Facebook @AkhwanZarkasyi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar