"Az-zon itu artinya nyono bapak-bapak, sekarang saya tanya, kalau nyono itu sebuah prasangka yang benar atau salah?", tanya bapak Kyai Bidin kepada para jamaah saat rutinan pengajian semalam di musholla Nurul Jadid di desa Penaruban kecamatan Weleri kabupaten Kendal.
"Bisa benar bisa salah!", jawab seorang bapak.
"Mungkin bisa benar Pak Kyai!", jawab seorang ibu di ruangan jamaah putri.
"Salah nggih Pak, Bu. Az-zon itu sebuah prasangka yang pasti salah. Mengapa? Karena kalau kita tidak benar-benar tabayun dulu dengan kabar yang sebenarnya pasti jatuhnya su'uzon, prasangka buruk", penjelasan Pak Kyai.
Sering kali kita berprasangka buruk terhadap sesuatu yang kita belum tahu kebenarannya seperti apa.
Kita mudah menyimpulkan sesuatu yang kita belum tahu dibelakang hal tersebut sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Lalu Pak Kyai menceritakan sebuah cerita tentang seorang budak yang bernama Salman Alfarisi saat dulu pada zaman kehidupan nabi Muhammad ﷺ.
Budak ini seorang anak yang rajin. Dia sering disuruh-suruh oleh orang-orang tua untuk mengerjakan semua pekerjaan. Salah satunya adalah pekerjaan mendirikan tenda. Saking rajinnya Kanjeng Nabi suka dengan anak ini.
Suatu hari pada saat mendirikan tenda, tiba-tiba ada dua orang tua yang menyuruh dia untuk minta lauk makanan kepada Kanjeng Nabi. Karena dua orang ini hanya punya makanan gandum saja. Lalu pergilah dia ke kediaman Kanjeng Nabi.
Pada saat dia pergi ke kediaman Kanjeng Nabi, dua orang ini membicarakan keburukan-keburukannya.
"Masak anak muda segagah ini hanya disuruh memasang tenda saja!", kata orang tua satu dengan sinisnya.
"Iya ya, padahal dengan tenagannya itu dia masih bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih berat", jawab orang tua satunya lagi dengan ketusnya.
Salman Alfarisi tidak mendengar pembicaraan mereka berdua. Dia tetap melangkah pergi ke kediaman Kanjeng Nabi melaksanakan perintah mereka.
"Assalamu'alaikum... Nyuwun sewu Kanjeng Nabi, kulo diutus tiyang kaleh niko nyuwun lauk makanan dateng panjenengan", kata Salman Alfarisi.
"Wa'alaikumsalam... Lha ngopo kok njaluk lauk rene?", tanya Kanjeng Nabi.
"Tirose tiyang kalih niko namung enten gandum, boten gadhah lauk Kanjeng Nabi."
"Hmm... Ngene yo, kowe mbalik o maneh neng wong loro kae, omongno nek wong loro kae sakjane wes duwe lauk makanan, dadi ora sah njaluk mrene."
"Nopo nggih Kanjeng Nabi?", tanya dia dengan kagetnya.
"Iyo..."
Lalu kembalilah dia ke tempat dua orang tua tadi. Dia pun menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi dawuh kalau mereka sebenarnya sudah punya lauk makanan, jadi tidak usah minta kepada Kanjeng Nabi.
"LOH! Lauk makanan opo! Lha wong iki genah onone gandum thok kok, ora ono opo-opo maneh!", jawab orang tua satu dengan kagetnya.
"Lha iyo!", jawab orang tua satunya lagi dengan terheran-heran juga.
Mereka berdua pun pergi ke kediaman Kanjeng Nabi. Mereka penasaran. Lauk makanan apa yang dimaksud oleh Kanjeng Nabi.
"Wahai Kanjeng Nabi, lauk nopo ingkang Kanjeng Nabi maksudkan?", tanya salah satu orang.
"Lha itu, di mulut kalian berdua itu sudah ada lauk makanan berupa bangkai daging yang sisa-sisa darahnya masih ada di sekitar mulut kalian berdua!", jawab Kanjeng Nabi.
"HAH!!!", mereka berdua pun kaget.
"Apa kalian tidak sadar bahwa membicarakan keburukan orang lain itu sama seperti memakan bangkai saudara kalian sendiri?"
"Astaghfirullah..!", penyesalan mereka berdua.
Mereka berdua pun bertaubat. Menyesal. Mereka minta maaf kepada Salman Alfarisi. Mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Orang pintar membicarakan kebaikan orang lain. Orang bodoh membicarakan keburukan orang lain.